This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, June 24, 2015

Musuh Terberat Sering kali Datang dari Diri Sendiri

     Selamat berjumpa kembali di blog saya teman-teman. :)
     Postingan kali ini saya ingin membicarakan sebuah hal yang mungkin sangat sederhana dan sering kita hadapi. Saya yakin kita semua pasti pernah menghadapi masalah. Bahkan kita sering lari dari masalah tersebut untuk membuat rasa nyaman beberapa saat. Namun sesungguhnya rasa nyaman itu membuat kita menjadi manusia yang biasa saja . Seharusnya ketika menghadapi masalah, kita harus menganalisis masalah tersebut dan memecahkannya ,  bukan malah menghindarinya. Sering kali kita beranggapan masalah selalu datang dari lingkungan atau orang lain, namun sesungguhnya masalah terberat adalah masalah yang berasal dari diri kita sendiri. Salah satu contoh masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita malas , mudah putus asa , dan sebagainya.

     Karena saya lebih suka menyampaikan inti pembicaraan melalui cerita , saya akan mengambil sebuah cerita sesorang yang berhasil mengalahkan masalah dari dalam dirinya , yang kini mungkin terkenal dibeberapa negara .



     Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
     Manajer muda itu baru saja selesai meeting “New Product Idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
     “Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
      Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
     “Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
     Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
     Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
     Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
     Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
     Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.

     Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
     Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
     Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.


Semoga teman-teman bisa mengambil maknanya dan menerapkannya.

Sumber : http://strategimanajemen.net/
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
an, karena koordinas
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf
Senja mulai membayangi sebuah gedung pencakar langit yang megah. Matahari petang mulai melipir, kembali ke peraduannya. Di salah satu koridor gedung itu, seorang manajer muda tampak menangis terisak. Ada kegetiran yang begitu pahit di matanya.
Manajer muda itu baru saja selesai meeting “new product idea” dengan para petinggi di kantornya. Ia dibantai : ide produk baru yang ia presentasikan, dikecam oleh para seniornya.
“Ide produk baru yang kekanak-kanakan !! Idenya tidak sesuai dengan tradisi perusahaan ini !!” Begitu kecaman dari para petingginya.
Batin manajer muda itu terluka. Hatinya berduka lantaran ide produk barunya diremehkan seperti calon pecundang.
“Senior-seniorku itu bodoh. Mereka tidak paham perkembangan pasar.” Begitu manajer muda itu membatin. Masih dengan mata yang berkaca-kaca. Semburat senja terus membayang langit sore itu.
Manajer muda itu tidak menyerah. Ia lalu bergerilya menemui CEO dan Presiden Komisaris perusahaan dimana ia bekerja. Tanpa kenal lelah, ia meyakinkan mereka bahwa ide produknya bisa menjadi ikon bagi masa depan perusahaan.
Beruntung CEO perusahaan itu akhirnya menerima ide produk baru dari manajer muda yang gigih itu.
Sejarah kelak mencatat, ide produk itu menjelma menjadi produk legendaris dan terlaris dalam industri digital dunia.
Anak muda itu bernama Ken Kutaragi. Perusahaan tempat ia bekerja : Sony. Ide produk yang ia usulkan : Sony PlayStation.
Ironi sejarah hadir disitu : ide produk yang dulu dikecam senior-senior Sony itu menjadi produk Sony paling sukses setelah Walkman. Konsol game PlayStation memang merupakan salah satu produk paling laris dan fenomenal bagi bisnis Sony.
Kisah Sony PlayStation mendedahkan sebuah pelajaran penting : ide inovasi radikal tak mudah diwujudkan.
Ide-ide inovasi yg brilian acap mengalami kematian prematur justru karena penolakan dari pihak internal.
Iklim senioritas, konflik serta arogansi internal sering membuat ide kreatif layu sebelum mekar. Kisah penolakan ide produk Playstation oleh senior-senior di Sony menunjukkan mentalitas itu.
Kompetisi bisnis tersulit sering bukan dengan perusahaan lain. Namun justru perang antar divisi dalam perusahaan itu sendiri. Nafas inovasi kehilangan oksigen, lantaran di-sabotase oleh konflik internal antar divisi yang begitu keras.
Maka musuh (rival) terbesar seringkali bukan datang dari pihak (perusahaan) lain, tapi muncul dari elemen internal dalam diri perusahaan itu sendiri.
Ego dan kepentingan sebuah divisi seringkali bertabrakan dengan kepentingan divisi lain. Sialnya, masing-masing divisi itu jarang yang mau mengalah, dan ngotot dengan kepentingannya masing-masing. Meeting demi meeting dijalani, namun gagal membangun sebuah kata kunci yang magis : koordinasi dan kolaborasi antar divisi.
Alhasil, berbagai inisiatif yang mantap ataupun ide inovasi yang brilian mandek di tengah jalan, karena koordinasi antara divisi adalah sebuah kemewahan yang sulit diwujudkan.
Kembali ke kisah Sony. Sejarah penciptaan Sony PlayStation yang sarat intrik dan resistensi, mungkin juga bisa memberi penjelasan kenapa dalam “smartphone war” mereka begitu tersengal-sengal mengejar laju Samsung yang begitu cepat.
- See more at: http://strategimanajemen.net/2013/08/25/dalam-perang-inovasi-musuh-terberat-seringkali-datang-dari-dirimu-sendiri/#sthash.wshl7bIJ.dpuf

Tuesday, June 9, 2015

Mengatasi Kemalasan

   Salah satu penyebab bangsa Indonesia tetap menjadi negara berkembang adalah KEMALASAN . Kemalasan adalah hal yang paling dekat dengan kita ketika kita melakukan kegiatan atau pekerjaan . Kita pun menjadi tidak sepenuh hati dalam mengerjakan sesuatu / pekerjaan . Sehingga hasil yang kita capai pun dari suatu pekerjaan tersebut menjadi tidak maksimal . Disini saya akan membagikan beberapa cara menghadapi kemalasan yang mungkin dapat mengurangi bahkan menghilangkan kemalasan dalam diri kita . 

1. Menata Hidup

Rasa malas terkadang muncul akibat pola hidup yang tidak teratur dan berantakan. Kita ambil contoh seseorang yang tidak merapikan tempat tidur ketika bangun pagi, membersihkan ruangan kerja, meja kerja yang mana material penumpangnya tidak tertata rapi, penyimpanan dokumen atau arsip yang tidak terorganisir, catatan yang berantakan, dan masih banyak lagi.

Jika sudah demikian dan telah berlangsung lama tanpa disadari akan membuat diri Anda menanam rasa malas yang akut, oleh karenanya mulai sekarang pastikan bahwa segala sesuatu yang berantakan dalam hidup Anda disusun atau ditata menjadi lebih rapi dan teratur. Buatlah jadwal kegiatan harian Anda sedetil mungkin, dan jika Anda melihat suatu benda yang berantakan, beranikan diri untuk mengembalikan posisi benda tersebut ke tempat yang semestinya.

2. Kerjakan Hal Yang Sulit Dipagi Hari

cara menghilangkan rasa malas      Pagi hari adalah jam - jam dimana otak berkonsentrasi tinggi dan tubuh lagi berkobar semangatnya. Biasakan ketika Anda bangun pagi, sarapan, dan mandi, langsung kerjakan hal yang menurut Anda sulit di pagi hari. Jangan ditunda hingga siang hari, apalagi sampai larut malam.
Jika banyak menunda sesuatu tentu akan menumpuk beban pikiran dan pekerjaan, ujung-ujungnya Anda menjadi malas untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dan yang lebih parahnya lagi, di esok harinya pula Anda bisa lebih malas karena pekerjaan dihari sebelumnya belum terselesaikan.

3. Hilangkan Kebiasaan Duduk di Sofa atau Berbaring di Tempat Tidur sebelum Waktu Istirahat

Cara Menghilangkan Rasa Malas
      Apabila kiranya masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan, maka percepat pengerjaannya. Disamping itu jangan pernah Anda duduk di sofa untuk meluruskan kaki atau berbaring di ranjang, meski alasannya untuk beristirahat sejenak.


    Tanpa Anda sadari, kegaitan tesebut dapat memancing rasa malas yang benar-benar sulit untuk diusir, apalagi jika Anda duduk di sofa sambil nonton TV, tugas Anda yang semestinya selesai hari ini malah terbengkalai akibat Anda sudah lebih dulu beristirahat sebelum waktunya.

4. Berikan Motivasi Pada Diri Sendiri

cara mengatasi rasa malas    Anda harus bisa memotivasi diri untuk menjauhi rasa malas. Seperti misalnya Anda perlu mandi pagi di hari libur, biasanya rasa malas sering muncul dengan berbagai alasan. Disaat seperti ini Anda tidak bisa mengikuti keinginan buruk tersebut, yakinkan diri bahwa mandi di pagi hari meski saat libur adalah hal yang wajib dan mempunyai manfaat positif terhadap diri Anda.

    Dengan begitu maka lambat laun rasa malas akan pergi dan Anda akan mengerjakan hal yang tadinya terasa sulit menjadi lebih ikhlas atau sukarela. Jika masih belum bisa, minta bantuan orang terdekat untuk memotivasi Anda agar dapat mengusir rasa malas.

5. Pede Untuk Menghadiahi Diri Sendiri

cara mengatasi rasa malas    Setiap Anda berhasil mengerjakan sesuatu tanpa didampingi rasa malas, jangan sungkan untuk memberikan hadiah kecil kepada diri Anda sendiri. Seperti misalnya Anda bisa bangun pagi tanpa bermalas-malasan, beri ucapan selamat pada diri Anda dan berikan sesuatu pada diri Anda karena berhasil mengatasi rasa malas tersebut.


    Katakan pada diri Anda setiap kali berhasil menjalani suatu kegiatan tanpa rasa malas: “Apabila saya berhasil menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu, saya akan mencicipi makanan favorit berupa ....... di ........ sebagai hadiah untuk diri saya sendiri”.

6. Olahraga rutin

cara menghilangkan rasa malas    Olahraga merupakan kebutuhan pokok setiap manusia, jika setiap hari Anda rajin berolahraga maka rasa semangat yang tertanam dalam tubuh seakan tak ada habisnya. Rasa malas juga bisa terjadi akibat tubuh kekurangan asupan nutrisi berupa vitamin dan kurangnya olahraga. 


    Maka dari itu, dalam sehari luangkan sedikit waktu, misalnya di pagi hari untuk berolahraga ringan seperti jogging selama 15 menit. Jika tidak ingin bosan, dalam seminggu bisa Anda variasikan dengan berenang, main futsal bareng teman ataupun jenis olahraga menyenangkan lainnya.


    Saat belajar, rasa ngantuk dan malas terkadang juga ikut serta untuk mengambil alih konsentrasi Anda. Tapi Anda tak perlu khawatir karena tips mengatasi rasa malas ketika belajar juga ada, berikut ini diantaranya:

7. Malas Belajar Karena Ngantuk

cara menghilangkan rasa malas   Jika dalam belajar Anda mulai merasa ngantuk, caranya mudah. Anda hanya perlu membasuh muka dengan air dingin atau jika tubuh terasa gerah bahkan berkeringat, hentikan sejenak proses belajar Anda lalu mandi, sehabis mandi lanjutkan kembali hingga materi pelajaran yang sedang Anda bahas selesai.

8. Ganti Posisi Duduk

cara menghilangkan rasa malas    Jika Anda mulai tidak nyaman dengan posisi duduk Anda. Berdirilah selama beberapa detik, kemudian duduk kembali dan rubah posisi duduk dari yang sebelumnya. Jika perlu, sangat dianjuirkan untuk mengganti bangku atau kursi Anda.


9. Pindah Lokasi Belajar

cara menghilangkan rasa malas    Ruangan yang digunakan untuk belajar berjam-jam akan memicu rasa malas dan bosan. Maka dari itu segera siasati dengan berpindah lokasi belajar, misalnya Anda beralih dari kamar tidur ke ruang tamu, tapi jangan sampai ke dapur, memangnya mau masak. 

10. Relaksasi

cara menghilangkan rasa malas    Otak yang dipaksa terus menerus bisa terbebani dan lama-lamaan dapat membuyarkan konsentrasi. Untuk mengatasi rasa penat tersebut, Anda bisa melakukan relaksasi atau penyegaran selama beberapa menit. Misalnya mendengarkan musik klasik, jalan-jalan di taman yang udaranya sejuk atau memandangi ombak di pantai bagi Anda yang tinggal di pesisir.



11. Sambil Makan Cemilan

cara mengatasi rasa malas     Agar suasana belajar Anda menjadi lebih menyenangkan, selingi kegiatan belajar dengan aktivitas lain seperti makan cemilan sehat. Siapkan beberapa buah pisang ataupun apel dimeja belajar Anda, ketika membaca buku dan memahami materi, selingi dengan makan buah tersebut. Pergerakan di mulut akan membuat otak Anda tidak terfokus pada pelajaran saja, jadinya rasa bosan tidak mudah muncul.

12. Rubah Pola Belajar

cara mengatasi rasa malas
     Jika Anda terbiasa belajar dengan cara menghapalkan isi buku bukan memahaminya, segera rubah sistem belajar Anda. Atau bisa juga Anda melakukan cara lain yang lebih menyenangkan, misalnya mencari alternatif lain dalam belajar seperti mendengarkan materi pelajaran melalui media audio visual (DVD, Laptop atau tape recorder).



13. Tanamkan Niat

cara menghilangkan rasa malas    Segala sesuatu dapat terjadi karena didasari dengan, baik perbuatan positif ataupun negatif. Saat Anda hendak menjalankan ibadah wajib yang harus dikerjakan oleh umat islam, niatkan dalam hati bahwa Anda ingin mendapatkan pahala, dan pikirkan juga bahwa meninggalkan sholat itu dosa besar dimana ganjarannya adalah api neraka yang sangat panas.

14. Imbangi Dengan Kebiasaan

cara mengusir rasa malas    "Seseorang menjadi bisa karena terbiasa", pepatah tersebut sangat tepat untuk mewakili faktor keberhasilan seseorang. Jika Anda pria, biasakan untuk sholat di masjid atau musholla dekat rumah, lama kelamaan aktivitas ini akan tertanam kuat didalam hati sehingga menjadi kebiasaan yang sangat sulit ditinggalkan.
 

15. Jangan Menunda Waktu Sholat

cara menghilangkan rasa malas sholatJangan bilang nanti ketika mendengar seruan Allah. Walau Anda sedang mengerjakan pekerjaan yang statusnya sulit, hentikan beberapa saat untuk menyembah Allah. Ketika sholat hati dan pikiran menjadi lebih tenang, disamping itu tanpa disadari pekerjaan Anda akan cepat terselesaikan karena muncul berbagai inspirasi setelah Anda mengerjakan sholat.

16. Basuh Muka

cara menghilangkan rasa malas
Seperti yang telah dijelaskan berikutnya, cara paling cepat untuk mengusir rasa ngantuk yang akhirnya memicu malas adalah membasuh muka. Dengan membasuh muka maka otot  menjadi lebih rileks, wajah dan otak terasa lebih segar sehingga siap untuk melahap pekerjaan yang belum terselesaikan.



17. Hirup Udara Pagi

cara menghilangkan rasa malasUdara pagi masih segar karena belum tercampur oleh polutan dari asap kendaraan bermotor dan pabrik. Jadi, jika Anda ingin membuat tubuh lebih bersemangat sebelum bekerja. Bermeditasi selama beberapa menit di pagi hari, sangat dianjurkan melakukannya sebelum jam 06:30 pagi.

18. Tengok  Teman Anda Yang Sukses

cara menghilangkan rasa malasMengamati teman yang sukses karena dirinya giat dan tekun dalam bekerja bisa membuat Anda ikut ulet dalam mengerjakan sesuatu. Jangan ragu juga untuk menanyakan apa saja hal yang memotivasi teman Anda sehingga bisa sukses seperti sekarang.



Cara Menghilangkan Rasa Malas Berolahraga

Olahraga sangat baik untuk menunjang kesehatan tubuh Anda dari luar. Maka dari itu jangan biarkan rasa malas menahan keinginan Anda untuk berolahraga, berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengusir rasa malas saat berolahraga.

19. Lakukan di Rumah

cara menghilangkan rasa malasJika Anda tidak ada waktu luang untuk fitness atau nge-gym, kenapa tidak melakukannya sendiri dirumah? Sudah banyak tutorial di Internet perihal terkait membentuk tubuh ideal di rumah, yang terpenting Anda tekun dan konsisten dalam menjalankannya.

20. Cari  Tempat Fitnes Yang Cocok

cara menghilangkan rasa malasJika Anda sudah menjadi member di salah satu pusat kebugaran di daerah Anda, terkadang ada saja alasan yang membuat Anda malas untuk pergi ke tempat tersebut sewaktu-waktu.


Masalah tersebut dapat terjadi, mungkin dikarenakan faktor lingkungan dan jenis latihan yang sudah tidak cocok lagi. And then, carilah tempat tempat fitness lain yang berisi orang-orang baru juga.

21. Jangan Mudah Bosan

cara menghilangkan rasa malas     "Keep it fresh" itulah prinsip yang harus Anda tuangkan dalam diri ketika ingin berolahraga. Karena jika sudah bosan, alasan menarik apapun yang akan Anda peroleh dari berolahraga tidak akan mengembalikan keinginan atau mood Anda untuk berolahraga. Atau bisa juga Anda mencari jenis olahraga lain yang lebih menantang, sehingga dapat memacu adrenalin.

    Dengan menerapkan cara menghilangkan rasa malas tersebut, saya belum bisa memastikan bahwa Anda berhasil menjalaninya. Sebab kemalasan itu ada tingkatnya, dan itu semua kembali pada diri Anda sendiri. Jika ingin sukses, berarti tidak boleh malas-malasan.
 
 
Sumber : http://cakrawalasehat.blogspot.com

Mendalami Akibat Korupsi

       Korupsi ibarat virus yang telah menggerogoti tubuh negeri ini.  Tidak ada sedikit pun bagian dari tubuh negeri ini yang bebas dari aksi virus yang berbahaya ini. Mulai dari kaki, tangan, sampai dengan kepala, dan semua bagian tubuh ini telah terkena virus berbahaya ini. Perilaku korupsi tidak hanya dilakukan oleh para pencuri tingkat tinggi, tetapi telah menyebar ke para pencuri tingkat awam. Sebagai contoh pemulung berani mencuri kotak sampah di kawasan perumahan yang dijaga oleh seorang satpam. Pencuri lain pun telah mencuri besi pembatas jalan raya. Virus korupi telah menyebar ke kelompok masyarakat apa dan mana pun juga. Oleh karena itu, sekali ditemukan virusnya di satu tempat, tempat yang lain pun telah terkena pula. Wajah-wajah virus itu pun tidak sedikitpun yang merasa menyesali perbuatannya. Sekian banyak virus yang dapat dideteksi, virus-virus yang lain muncul lagi, dan tidak kalah ganasnya.

        Marilah kita bayangkan. Empat puluh mobil berhasil disita oleh KPK. Berapa banyak uang telah dibagi-bagikan oleh siapa dan kepada siapa. Berapa banyak uang untuk membeli rumah yang kemudian disita, dan berapa lagi untuk befoya-foya dengan narkoba, dan masih banyak lagi. Tiga puluh lima juta dibagi-bagi untuk THR wakil-wakil rakyat. Kalau ini benar, berapa uang rakyat telah ditebar di mana-mana? Pengguna dan pemanfaat uang recehannya pun diancam akan diberi sangsi. Entah apakah semuanya itu akan menjadi alat ampuh untuk memberantas korupsi. Tidak seorang pun yang tahu pasti.

Sehubungan dengan kasus-kasus tersebut, ada beberapa pihak yang meragukan kehebatan dan kinerja KPK. Malah ada upaya sistematis untuk menggembosinya. Bahkan ada pula pihak yang berfikir, apakah ongkos yang dikeluarkan untuk pemberantasan korupsi “seimbang” dengan hasil yang dicapai, khususnya jumlah hasil sitaan yang masuk ke kas negara. Ada juga berita tentang pengumpul uang denda yang telah ditahan oleh KPK. Jadi selama ini uang denda itu tidak masuk ke kas negara, tetapi telah masuk ke kantong petugasnya, yang telah menyimpan dengan bunga-bunganya.

Itulah kegalauan yang kini terjadi di kalangan masyarakat awan tentang masalah korupsi di negeri ini dan upaya untuk memberantasnya. Sampai di sinikah proses itu berhenti? Tidak tahu entah upaya apa saja lagi yang harus dilaksanakan. Ada juga kelompok masyarakat yang mempunyai gagasan agar KPK membuat laporan pertanggungjawaban secara transparan kepada rakyat, berapa dana yang telah digunakan untuk memberantas korupsi dan berapa banyak uang rakyat yang telah berhasil diselamatkan. Untuk membuat citranya yang bersih selama ini, cobalah kita daftar berapa orang yang telah ditetapkkan sebagai koruptor, berapa banyak uang negara dan barang-barang yang dihasilkannya telah kembali ke kas negara. Mari kita evaluasi secara transparan demi akuntabelitas publik, karena sejatinya rakyatlah yang sejatinya memiliki harta yang telah digarong itu.



Atau ada baiknya jika kita bisa mengevaluasi cara-cara yang telah ditempuh untuk memecahkan masalah korupsi selama ini. Mungkinkah konsep yang telah kita gunakan selama ini sesungguhnya kurang manjur dibandingkan konsep yang lain? Jika cara-cara yang telah dilaksanakan di negeri ini telah dilakukan secara kuratif, yang diberantas setelah terjadi korupsi, maka KPK pun sudah kewalahan untuk menyimpan hasil sitaan. Saking mirisnya, seorang teman berkata, kenapa barang sitaan itu tidak dilelang saja, ketimbang harus rusak dimakan karat atau hilang dimakan waktu? KPK dibentuk bukan hanya untuk menangkap koruptornya, melainkan juga untuk menyimpan hasil sitaannya. Sungguh berat tugasnya. Apakah karena tugas yang berat itu, perannya kabarnya juga akan digembosi?

Marilah kita bertanya, apakah dengan KPK, kita yakin bahwa negeri ini akan bersih dari perilaku korupsi? Tentu tidak bersih sama sekali. Tetapi tidak sebanyak saat ini. Karena Tuhan telah menakdirkan korupsi untuk menjadi ladang amal bagi petugas yang memberantas korupsi. Dapat pahala karena untuk mengajak warga masyarakat tidak lagi korupsi, setidaknya tidak banyak warga yang masuk neraka. Jadi logikanya lembaga ini tidak perlu dibentuk jika negeri tercinta ini bersih dari korupsi. Mungkin konsepnya jangan kuratif, yang kegiatannya seperti membiarkan orang melakukan korupsi, lalu kita berusaha untuk mengintainya, dan kemudian memberantasnya. Silahkan korupsi sebanyak-banyaknya, sampai tujuh turunan sekali pun, nanti akan kita berantas habis-habisan. Nah kemudian kita membuat lembaga yang akan bertugas untuk tersangka, yang lain menjadi saksi. Yang tersangka masuk bui, yang menjadi saksi menjadi tersangka dan masuklah sel tahanan. Proses itu terus berlangsung sebagai siklus tanpa henti di negeri ini. Dengan cara kuratif sebenarnya kita telah membiarkan orang punya kesempatan untuk ketagihan korupsi untuk beramai-ramai melakukannya, dan ditangkap oleh intel-intel yang mengintip di waktu-waktu senja, untuk memaksa mereka masuk prodeo, dan mengambil bukti-bukti perbuatannya, serta menyita barang-barang bukti di mana-mana. Padahal, faktor penyebab korupsi lebih merupakan daktor budaya yang lama diamalkan di negeri kita. Jika demikian halnya, keberhasilan dalam pemecahan masalah korupsi baru akan kita ketahui dalam waktu satu generasi lagi. Ohh lamanya?


       Kalau demikian halnya, mengapa kita harus mengubah haluan, dari kuratif ke preventif. Seperti di negeri jiran yang telah membuat Badan Pencegah Rasuah (BPR). Memang, kita belum tahu sepenuhnya apa kiat yang telah mereka lakukan, dan apa hasil yang telah mereka peroleh. Yang pasti, di negeri sendiri tentang korupsi jauh lebih banyak ketimbang di negeri jiran tersebut.


Sumber : Suparlan.com

Friday, June 5, 2015

Mengapa Orang Indonesia Malas Membaca ?



Sudah jamak kita melihat hampir di seluruh sudut kota orang Indonesia merokok dengan nikmatnya. Namun jarang kita melihat orang Indonesia yang asyik tepekur membaca buku di depan umum. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat malas membaca buku atau media cetak lainnya. Berdasarkan penelitian UNESCO, hanya 1 orang dari 1.000 orang Indonesia yang punya minat baca serius.
Penyair garda depan Indonesia, Taufiq Ismail dalam salah-satu tulisannya mengatakan orang Indonesia “luar biasa sedikit” membaca buku. Tak heran, industri rokok berhasil mengalahkan industri buku dengan telak karena orang Indonesia lebih suka membeli rokok daripada buku.
Menurut hemat saya, ada beberapa penyebab mengapa orang Indonesia malas membaca buku.  

Pertama, membaca buku bukan sebuah kegiatan yang instan yang hasilnya langsung dapat dinikmati. Membaca tidak sama dengan makan hidangan cepat saji atau minum Coca Cola. Membaca adalah sebuah proses yang harus dinikmati. Perlu kesabaran dalam membaca.
Kadang hasil bacaan kita terhadap sebuah buku akan kita rasakan bertahun-tahun sesudahnya. Sedangkan orang Indonesia lebih suka sesuatu yang menghasilkan entah itu uang atau apapun dengan cepat. Dalam sebuah bukunya berjudul “Mentaliteit, Kebudayaan, Pembangunan” yang sudah menjadi buku klasik bagi mahasiswa dan ilmuwan sosial di Indonesia, Koentjaraningrat, pakar antropologi Indonesia, menulis bahwa orang Indonesia suka mencari jalan pintas atau menerabas.

Kedua, orang Indonesia punya jiwa sosial yang tinggi. Manusia Indonesia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung kepada lingkungannya. Orang Indonesia suka berkumpul dan mengobrol di warung kopi atau rumah makan. Sedangkan membaca buku menyebabkan individualisme. Ketika kita membaca buku, kita dalam keadaan sendirian dengan teks di depan mata kita. Kita berinteraksi dengan teks padahal teks adalah benda mati –setidaknya sekilas pandangan mata. Ini berbeda dengan mentalitas orang Indonesia yang suka berteman. Ingat tagline sebuah iklan rokok, “Asyiknya rame-rame”.
Membaca buku menyebabkan seseorang menjadi individualistis. Di Barat, sejak kecil seorang anak Barat telah dibiasakan berpikir mandiri, menyatakan pendapatnya sendiri, dan menjadi dirinya sendiri. Sedangkan di Indonesia, seorang terikat pada lingkungan sosialnya. Membaca buku pada hakikatnya menjadi individu baru karena interaksi kita dengan teks. Teks-teks itu memperkaya pemahaman kita dan kemudian terintegrasi di dalam psike seorang individu.

Ketiga, sistem pendidikan Indonesia tidak mewajibkan siswa-siswi untuk membaca buku. Kondisi ini sudah disinyalir penyair Taufiq Ismail dengan “Generasi Nol Buku”, generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang. Menurut Taufiq, generasi nol buku sudah berlangsung dari era 50-an saat bangsa Indonesia mulai lepas dari penjajahan. Budaya buku dipotong habis karena dianggap tidak efektif. Ilmu-ilmu eksakta dijunjung, sedangkan ilmu sosial dan humaniora dianaktirikan.

Keempat, orang Indonesia lebih suka berbudaya lisan. Bicara lebih praktis, lebih cepat, dan lebih mengena ketimbang membaca atau menulis. Kadang untuk bicara tidak harus berpikir. Acara-acara talkshow, diskusi, debat, bertebaran di stasiun-stasiun televisi Indonesia membuktikan bahwa sebagian besar orang Indonesia masih berbudaya oral.

Kelimat, membaca adalah pekerjaan elit. Pandangan ini agaknya tertanam dalam alam bawah sadar orang Indonesia. Selama beberapa abad masyarakat Indonesia hidup dalam penjajahan. Sebagian besar menjadi rakyat jelata. Maka tak heran, kalau membaca dikaitkan dengan kebiasaan bangsa kulit putih atau kelompok sosial tertentu.

Dari kelima faktor di atas, ada hal yang harus kita lakukan agar pola pikir bangsa Indonesia terhadap budaya membaca berubah. Kita harus merevolusi mental kita –meminjam istilah Presiden Jokowi. Cara berpikir sebagai bangsa jajahan harus dirombak total. Bangsa Indonesia harus diajak berpikir kritis dan terbuka.
Globalisasi pada titik tertentu mempunyai manfaat bagi bangsa Indonesia karena di satu sisi ia membuka pikiran bangsa Indonesia terhadap bangsa-bangsa lain. Globalisasi dapat berarti ancaman bagi bangsa Indonesia karena bisa jadi bangsa-bangsa tersebut lebih unggul. Globalisasi melatih bangsa Indonesia untuk berkompetisi sekaligus bekerja sama. Bangsa Indonesia harus belajar kepada bangsa-bangsa lain. Dengan demikian sedikit demi sedikit dapat mengikis mental kolonial yang diwariskan para penjajah

Sumber : http://www.kompasiana.com/hanvitra

Perbedaan Etos Kerja Bangsa Indonesia dengan Jerman

Mungkin kita semua mengenal tokoh berikut .
Ia adalah Adolf Hitler yang memimpin Negara Jerman beberapa waktu silam . Sebagian etos kerja bangsa Jerman dibentuk olehnya. Kita akan melihat bagaimana etos kerja bangsa jerman.

Berikut saya akan memaparkan pandangan saya terhadap perbedaan antara etos kerja bangsa Jerman dengan bangsa Indonesia



ETOS KERJA BANGSA JERMAN
Jerman sangat mengutamakan peraturan dan disiplin, dan dalam hal pekerjaan mereka melakukan dengan sangat serius. Di mata beberapa orang, dalam banyak kasus, orang Jerman kaku, tidak fleksibel, dan bahkan sedikit tidak manusiawi. Jerman sangat mengutamakan peraturan tentang kebersihan dan kerapian. Di Jerman, baik taman, jalan-jalan, atau teater atau tempat-tempat umum lainnya, dan di mana-mana terlihat rapi. Jerman juga menekankan peraturan untuk memakai pakaian pada tempatnya. Saat bekerja memakai pakaian kerja, saat di rumah meskipun anda bisa berpakaian santai, tapi selama ketika ada tamu datang, atau pergi keluar, anda harus berpakaian rapi. Di teater, para wanita mengenakan rok panjang, atau setidaknya mengenakan pakaian gelap.
Berdasarkan survei yang dilakukan majalah Spiegel terhadap 1.000 responden bulan Maret 2005 menunjukkan bahwa nilai ”kesadaran nasional” (national consciousness) merupakan nilai yang paling rendah (26-31 persen) di antara nilai-nilai lainnya yang dianggap penting dalam kehidupan rakyat Jerman.Nilai yang tertinggi peringkatnya adalah kejujuran dan integritas (81-83 persen).Dari survei ini dapat dilihat bahwa orang Jerman sangat memprioritaskan kejujuran dan integritas dalam melakukan sesuatu.Adapun hal-hal yang perlu kita pelajari dari kebiasaan atau etos kerja orang Jerman adalah sebagai berikut:
1.Menghargai waktu
Jerman sangat menghargai waktu, jika ada janji, tidak akan berubah waktu dengan mudah. Orang Jerman jika diundang ke rumah orang lain atau pergi keluar untuk mengunjungi teman, akan tiba dengan tepat waktu , tidak membuang-buang waktu dengan datang lebih awal ataupun terlambat.Di Jerman jika tidak ada acara khusus, mereka harus menghargai tetangga sekitar dengan tidak diperbolehkan menbuat kebisingandari pukul 20:00-08:00 hari berikutnya. Jika ada acara khusus, harus minta izin di awal ke tetangga-tetangga. Jika tidak, akan menuai protes dari tetangga dan bahkan akan dilaporkan ke polisi.
2.Tulus dan fokus pada etiket
Berurusan dengan orang Jerman tidaklah memiliki banyak kesulitan. Dalam kebanyakan kasus, yang bisa mereka lakukan, mereka akan segera memberitahu Anda “bisa melakukannya.” Dimana mereka tidak dapat dilakukan, mereka jelas akan memberitahu Anda “Tidak”, atau memberi  jawaban yang  jelas. Tentu saja, tingkat hubungan pribadi tidak akan pengaruh pada hubungan pekerjaan.Mirip dengan kebanyakan negara Barat, Jerman lebih memperhatikan etiket. Mereka bertemu, selalu menyapa “Hello.” .Bertemu dengan teman mereka akan berjabat tangan dulu. Jika teman lama mereka akan saling memeluk. Pada acara formal mereka juga akan mencium tangan wanita sebagai rasa hormat.
Memberi hadiah adalah sangat dihargai di Jerman. Ketika diundang ke rumah orang lain, biasanya datang dengan hadiah. Kebanyakan orang dengan karangan bunga, beberapa tamu laki-laki dengan botol anggur, ada juga yang membawakan buku atau album. Dalam menyambut para tamu (seperti stasiun, bandara dan tempat-tempat lain) untuk mengunjungi pasien, banyak juga mengirimkan bunga. Biasanya mereka langsung membuka hadiah di depan pemberi dan mengucapkan terimakasih.Di Jerman dan negara-negara Barat lain, perempuan adalah prioritas. Seperti saat antrian mereka akan mendahulukan perempuan. Dalam berbicara dengan rekan kerja, orang Jerman sangat berhati-hati untuk menghormati satu sama lain. Jangan tanya urusan pribadi orang lain (seperti usia wanita).
Adapun etos kerja orang Jerman menurut Max Weber dalam bukunya yang berjudul “The spirit of Capitalism” adalah :
1.Bertindak rasional
2.Berdisiplin tinggi
3.Bekerja keras
4.Berorientasi sukses material
5.Tidak mengumbar kesenangan
6.Hemat dan bersahaja
7.Menabung dan berinvestasi

ETOS KERJA BANGSA INDONESIA
Setelah melihat etos kerja orang Jerman,pertanyaanya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini? Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial,ekonomi dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan? Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku "Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.
Hasil pengamatan para pemikir/cendekia tersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya (dan mudah-mudahan) bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan Dalam “Manusia Indonesia” kita sosialisaikan, tumbuhkembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.
 Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya Candi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos Kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai batas tertentu),kerja keras, dan lain-lain. Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan Infrastruktur teknologis maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa belanda mengunjungi kita. kita juga mengenal slogan-slogan yang setidaknya dulu pernah menjadi perminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, iroake, Nambahake. Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah air
Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional putra-putri Indonesia dengan ciri-ciri sebagai berikut:
      1.    Kerja adalah Rahmat
      2.    Kerja adalah Amanah
      3.    Kerja adalah Panggilan
      4.    Kerja adalah Aktualisasi
      5.    Kerja adalah Ibadah
      6.    Kerja adalah Seni
      7.    Kerja adalah Kehormatan
      8.    Kerja adalah Pelayanan

sSumber : http://yudhikurniawan90.blogspot.com
s

Thursday, June 4, 2015

Hadapi Kebijakan Pemimpin dengan BIJAK

Saya lebih suka membagikan kisah inspiratif yang pernah saya baca , mungkin dengan ini teman teman dapat lebih mudah memahami apa inti yang ingin saya sampaikan .
Saya pernah mendengar cerita "Sumur Masalah" . Cerita ini mengilustrasikan bagaimana kita menghadapi masalah terhadap Pemimpin yang mungkin memberikan kebijakan yang "Salah" , namun sebenarnya ia tidak bermaksud seperti yang kita pikirkan . Sehingga kita duluan memakinya sebelum melihat hasil dari kebijakan tersebut .
Ceritanya kira kira seperti ini

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya si petani memutuskan untuk menimbun sumur dengan tanah . 

Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. 
Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. 
Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur. Si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara si petani dan tetangga-tetangganya terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik.
Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan berhasil keluar dari sumur tersebut .
Sering kali kita pasrah dalam menghadapi kebijakan pemimpin yang mungkin terlihat kasat mata "Salah". Kita tidak berpikir bagaimana menghadapinya , namun kita asyik memakinya dan tidak melaksanakannya dengan fokus . Sehingga ketika kebijakan itu berhasil , hanya kita yang tidak mendapat kebahagiaan itu .Jadi , jangan pernah salahkan pemimpin , sekalipun kebijakan pemimpin itu salah jika kita menghadapinya dengan BIJAK maka kebijakan itu jauh lebih baik , daripada kita asyik memaki pemimpin tersebut . Karena makian anda tidak mengubah kebijakan itu .  
Sumber : http://giajemursarisurabaya.blogspot.com


Bekerjalah Dengan Sepenuh Hati

Saya pernah membaca sebuah cerita tentang srigala yang mengilustrasikan bagaimana kita dalam menghadapi pekerjaan . Ceritanya seperti berikut

Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,

"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.

"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" jawab serigala A dan dengan sigap serigala A itupun melompat ke arah kelinci tersebut dan berlari mengejarnya.

Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!" begitu suaranya.

Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit... sampai 5 menit..

Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. Serigala itupun kelelahan dan menghentikan pengejarannya.

Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.

Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk.

Serigala B lalu melanjutkan perkataanya, "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawany
a."


Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.

Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?
 
Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.

Jadi,coba lah sadari apa sebenarnya tujuan anda bekerja. Ketika anda sudah meyadari maka secara tidak langsung anda akan menyeriusi pekerjaan Anda .

Sumber : http://www.klinikrohani.com/2008/04/dua-serigala.html
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com