Ia adalah Adolf Hitler yang memimpin Negara Jerman beberapa waktu silam . Sebagian etos kerja bangsa Jerman dibentuk olehnya. Kita akan melihat bagaimana etos kerja bangsa jerman.
Berikut saya akan memaparkan pandangan saya terhadap perbedaan antara etos kerja bangsa Jerman dengan bangsa Indonesia
ETOS KERJA BANGSA JERMAN
Jerman sangat mengutamakan peraturan dan disiplin, dan dalam
hal pekerjaan mereka melakukan dengan sangat serius. Di mata beberapa orang,
dalam banyak kasus, orang Jerman kaku, tidak fleksibel, dan bahkan sedikit
tidak manusiawi. Jerman sangat mengutamakan peraturan tentang kebersihan dan
kerapian. Di Jerman, baik taman, jalan-jalan, atau teater atau tempat-tempat
umum lainnya, dan di mana-mana terlihat rapi. Jerman juga menekankan peraturan
untuk memakai pakaian pada tempatnya. Saat bekerja memakai pakaian kerja, saat
di rumah meskipun anda bisa berpakaian santai, tapi selama ketika ada tamu
datang, atau pergi keluar, anda harus berpakaian rapi. Di teater, para wanita
mengenakan rok panjang, atau setidaknya mengenakan pakaian gelap.
Berdasarkan survei yang dilakukan majalah Spiegel terhadap 1.000 responden bulan
Maret 2005 menunjukkan bahwa nilai ”kesadaran nasional” (national consciousness) merupakan nilai yang paling rendah (26-31
persen) di antara nilai-nilai lainnya yang dianggap penting dalam kehidupan
rakyat Jerman.Nilai yang tertinggi peringkatnya adalah kejujuran dan integritas
(81-83 persen).Dari survei ini dapat dilihat bahwa orang Jerman sangat
memprioritaskan kejujuran dan integritas dalam melakukan sesuatu.Adapun hal-hal
yang perlu kita pelajari dari kebiasaan atau etos kerja orang Jerman adalah
sebagai berikut:
1.Menghargai waktu
Jerman
sangat menghargai waktu, jika ada janji, tidak akan berubah waktu dengan mudah.
Orang Jerman jika diundang ke rumah orang lain atau pergi keluar untuk
mengunjungi teman, akan tiba dengan tepat waktu , tidak membuang-buang waktu
dengan datang lebih awal ataupun terlambat.Di Jerman jika tidak ada acara
khusus, mereka harus menghargai tetangga sekitar dengan tidak diperbolehkan
menbuat kebisingandari pukul 20:00-08:00 hari berikutnya. Jika ada acara
khusus, harus minta izin di awal ke tetangga-tetangga. Jika tidak, akan menuai
protes dari tetangga dan bahkan akan dilaporkan ke polisi.
2.Tulus dan fokus pada etiket
Berurusan dengan orang Jerman tidaklah memiliki banyak
kesulitan. Dalam kebanyakan kasus, yang bisa mereka lakukan, mereka akan segera
memberitahu Anda “bisa melakukannya.” Dimana mereka tidak dapat dilakukan,
mereka jelas akan memberitahu Anda “Tidak”, atau memberi jawaban yang
jelas. Tentu saja, tingkat hubungan pribadi tidak akan pengaruh pada
hubungan pekerjaan.Mirip dengan kebanyakan negara Barat, Jerman lebih
memperhatikan etiket. Mereka bertemu, selalu menyapa “Hello.” .Bertemu dengan
teman mereka akan berjabat tangan dulu. Jika teman lama mereka akan saling
memeluk. Pada acara formal mereka juga akan mencium tangan wanita sebagai rasa
hormat.
Memberi hadiah adalah sangat dihargai di Jerman. Ketika
diundang ke rumah orang lain, biasanya datang dengan hadiah. Kebanyakan orang
dengan karangan bunga, beberapa tamu laki-laki dengan botol anggur, ada juga
yang membawakan buku atau album. Dalam menyambut para tamu (seperti stasiun,
bandara dan tempat-tempat lain) untuk mengunjungi pasien, banyak juga
mengirimkan bunga. Biasanya mereka langsung membuka hadiah di depan pemberi dan
mengucapkan terimakasih.Di Jerman dan negara-negara Barat lain, perempuan
adalah prioritas. Seperti saat antrian mereka akan mendahulukan perempuan.
Dalam berbicara dengan rekan kerja, orang Jerman sangat berhati-hati untuk menghormati satu
sama lain. Jangan tanya urusan pribadi orang lain (seperti usia wanita).
Adapun etos kerja orang Jerman menurut
Max Weber dalam bukunya yang berjudul “The
spirit of Capitalism” adalah :
1.Bertindak
rasional
2.Berdisiplin
tinggi
3.Bekerja
keras
4.Berorientasi
sukses material
5.Tidak
mengumbar kesenangan
6.Hemat
dan bersahaja
7.Menabung
dan berinvestasi
ETOS
KERJA BANGSA INDONESIA
Setelah melihat etos kerja orang Jerman,pertanyaanya
kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini? Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari
rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial,ekonomi dan kultural, yang lantas
berimplikasi pada kualitas kehidupan? Ataukah etos kerja yang kita miliki
sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku "Manusia Indonesia" karya
Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan
adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab;
feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian.
Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang
menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan
banyak lagi.
Hasil pengamatan para pemikir/cendekia tersebut tentu ada
kebenarannya. Tetapi tentunya (dan mudah-mudahan) bukan maksud mereka untuk
membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita
sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos
kerja sebagaimana diungkapkan Dalam “Manusia
Indonesia” kita sosialisaikan, tumbuhkembangkan dan pelihara, maka berarti
kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.
Tanpa bermaksud
terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia
memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya Candi
Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos
Kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai
batas tertentu),kerja keras, dan lain-lain. Berkembang luasnya pengaruh
kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak,
dengan berbagai perangkat dan Infrastruktur teknologis maupun sosial dalam
pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja
tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini
masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad
yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air
jauh sebelum bangsa belanda mengunjungi kita. kita juga mengenal slogan-slogan
yang setidaknya dulu pernah menjadi perminan suatu etos kehidupan, seperti:
Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, ing Madyo Mbangung Karso, Tut
Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, iroake, Nambahake. Ini mencerminkan
etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun
persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi
slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah air
Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional putra-putri
Indonesia dengan
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kerja adalah Rahmat
2. Kerja adalah Amanah
3. Kerja adalah Panggilan
4. Kerja adalah Aktualisasi
5. Kerja adalah Ibadah
6. Kerja adalah Seni
7. Kerja adalah Kehormatan
8. Kerja adalah Pelayanan
sSumber : http://yudhikurniawan90.blogspot.com
s







0 comments:
Post a Comment