Kita sebagai
manusia sering kali berpijak pada zona nyaman. Sayapun sering melakukannya.
Suatu ketika saya bertanya kepada diri saya, mengapa saya bertolak di zona
nyaman ? Aku menemukan jawabannya yang mungkin secara teoritis bisa diterima
akal sehat namun saya rasa secara praktek sangat sulit saya lakukan. Inti logikanya
mungkin seperti ini. Bisakah anda membuat segi lima didalam segi empat namun
tiap titik sudut segi lima hanya boleh mengenai satu sisi segi empat. Tidak ada
dua sudut segi lima yang bertumpuh pada satu sisi segi empat. Cukup banyak
waktu kuhabiskan untuk mengotak atik pikiranku agar tantangan tersebut dapat
kupecahkan. Hingga pikiranku lelah tak ku temukan jawabannya. Akhirnya aku
membuat segi lima namun satu titik sudut nya diluar sisi segi empat tersebut. Begitulah
dengan kita, kalo kita selalu bertengger diposisi nyaman maka tak heran
kemampuan kita yang seharusnya lebih kini hanya biasa saja. Sementara kita
diberikan kemampuan yang jauh lebih hebat. Contoh kecil yang mungkin sering
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anda disuruh memimpin suatu
kegiatan yang mungkin biasanya anda hanya sebagai anggota saja. Mungkin naluri
kita menolak. Dipikiran kita hanya terpikir lebih baik saya anggota, kalo saya
pemimpinnya nanti takut salah, takut dimarahi, takut malu dan sebagainya. Kita
sudah menembok pikiran kita dan menginjak kemampuan kita sendiri. Memang ketika
kamu melangkah keluar dari zona nyaman disitulah anda mulai tumbuh bahkan
dengan cepat. Karena ketidaknyamanan yang anda alami meminta kemampuanmu yang
lebih. Disamping itu resiko dan tantangan akan ada selangkah didepan mata kaki
mu. Namun ingatlah ketika anda mampu bersahabat dengan resiko resiko tersebut,
maka tidak lama lagi anda melesit jauh baik secara karier maupun jiwa
kepemimpinan anda. Itulah sebab nya anda keluar dari zona nyaman.






0 comments:
Post a Comment